PESAN
PERSUASIF
Komunikasi
persuasif adalah komunikasi yang bertujuan
untuk mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang
sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator
Pada umumnya sikap-sikap individu/
kelompok yang hendak dipengaruhi ini terdiri dari tiga komponen:
- Kognitif -
perilaku dimana individu mencapai tingkat
"tahu" pada objek yang diperkenalkan.
- Afektif
- perilaku dimana individu mempunyai
kecenderungan untuk suka atau tidak suka pada objek.
- Konatif
- perilaku yang sudah sampai tahap hingga individu melakukan sesuatu
(perbuatan) terhadap objek.
Kepercayaan/ pengetahuan seseorang
tentang sesuatu dipercaya dapat memengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya
memengaruhi perilaku dan tindakan mereka terhadap sesuatu. mengubah pengetahuan
seseorang akan sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka. Walaupun ada
kaitan antara kognitif, afektif, dan konatif - keterkaitan ini tidak selalu
berlaku lurus atau langsung.
Contoh:
"Budi tahu/ percaya (kognitif)
bahwa mobil Mercedes-Benz itu
mobil yang bagus. Budi juga senang (afektif) melihat bentuk mobil
tersebut saat melenggang di jalan. Tetapi Budi tidak akan membeli mobil
Mercedes-Benz (konatif), karena ia tidak punya uang."
Faktor-faktor yang memengaruhi
komunikasi persuasif agar berhasil
Banyak faktor menentukan
keberhasilan/ ketidak berhasilan suatu pesan yang bertujuan persuasif. Empat
faktor utama adalah
- Sumber pesan/ komunikator yang mempunyai
kredibilitas yang tinggi; contohnya seseorang yang mempunyai pengetahuan
tentang apa yang disampaikannya.
- Pesan itu sendiri (apakah masuk akal/ tidak)
- Pengaruh lingkungan
- Pengertian dan kesinambungan suatu pesan (apakah pesan
tersebut diulang-ulang)
Namun faktor-faktor ini tidak
berjalan secara bertahap, pada banyak kasus faktor-faktor ini saling tumpang
tindih.
Contoh:
Etika komunikasi persuasif
Komunikasi persuasif tidak sama
dengan propaganda. Menurut Prof. Richard L.
Johannesen, Profesor Komunikasi dari Northen Illinois University[2] ntuk membatasi agar komunikasi
persuasif tidak menjadi propaganda maka ada seperangkat etika
yang harus dipatuhi
Agustus 5th, 2008 Tagged Persuasive Sales Message, Pesan penjualan, sales messages, trik marketing
Kemampuan anda untuk menjual amat
tergantung pada kemampuan anda untuk menceritakan pesan penjualan. Sayangnya,
banyak sales profesional, dan hampir semua marketing profesional, tidak
mengerti bagaimana caranya untuk memberikan jawaban (misal. pesan) yang
sebetulnya memotivasi pelanggan untuk membeli. Penyebabnya adalah kebanyakan
karyawan tidak mengerti bagaimana membuat pesan persuasif. Mereka cenderung
membuat pesan yang mencerminkan dialog yang menjemukan seperti ruang rapat
dewan bisnis.
Pikirkan pesan mempunyai dua skala. Skala pertama “Intellectual” di ujungnya, dan “Emotional” di ujung lainnya. Skala kedua “Abstract” di ujungnya, dan “Concrete” di ujung lainnya. Pesan yang paling tidak persuasif selalu intelektual dan abstrak; pesan yang paling persuasif adalah yang emosional dan konkrit. Ini bisa diperlihatkan pada grafik:
Pikirkan pesan mempunyai dua skala. Skala pertama “Intellectual” di ujungnya, dan “Emotional” di ujung lainnya. Skala kedua “Abstract” di ujungnya, dan “Concrete” di ujung lainnya. Pesan yang paling tidak persuasif selalu intelektual dan abstrak; pesan yang paling persuasif adalah yang emosional dan konkrit. Ini bisa diperlihatkan pada grafik:
Misalnya, ini dua pesan yang
menceritakan informasi yang sama. Mana yang lebih persuasif?
- QUOTE #1: “Tindakan pemerintah seharusnya secepatnya
diambil untuk mengakhiri pemisahan Jerman. ”
- QUOTE #2: “Mr. Gorbachev: Runtuhkan tembok itu!”
Kutipan kedua lebih powerful karena
konkrit. Hal itu merujuk pada individu yang spesifik, dinding spesifik dan
tindakan spesifik, semuanya mewakili hal penting yang perlu dibuat. Pesan kedua
juga sangat emosional. Hal itu menggunakan kata kerja dengan nada emergensi
(”runtuhkan”) dan mengungkapkan perasaan yang penting sekali (sebagai perintah
atau permintaan), yang menambah urgensi yang dramatis.
Kebanyakan pesan penjualan (dan
hampir semua pesan marketing) baik intelektual maupun abstrak, biasanya
menggunakan terlalu banyak jargon perusahaan. Jika ada suatu usaha pada isi
yang emosional, hal itu biasanya diungkapkan dengan cara abstrak. Sebagai
contoh dari email sebenarnya yang saya baru terima dari vendor eksekutif CRM:
- Anda harus pindah ke [produk] karena akan meningkatkan
produktivitas melampaui target
- Jika anda tidak pindah ke [produk], kompetitor anda
pasti melakukan, dan akan menendang anda keluar dari kompetisi
- [Produk] ini mudah untuk diadopsi dan akan membuatkan
organisasi penjualan anda lebih produktif
Amati bahwa ini bukan pesan
marketing perusahaan, yang mana yang lebih buruk lagi. Ini adalah pesan dari
one-on-one email, hanya sedikit yang mungkin menjadi prospek
Pesan penjual itu tidak kosong sama
sekali, tetapi mereka masih tidak berkomunikasi banyak. Apakah “produktivitas”
dan “lebih produktif” benar-benar berarti? Dan frase “melampaui” dan “menendang
anda” begitu hambar dimana mereka tidak membawa muatan yang emosional.
Sebagai eksperimen, mari menulis
kembali pernyataan pertama di atas untuk membuatnya lebih persuasif.
- Original: “Ini akan membuat tim anda lebih produktif. ”
(Abstrak, intelektual)
- Morph #1: “Tim anda akan menutup dua kali penjualan. ”
(konkrit, meskipun masih intelektual)
- Morph #2: “Tim anda akan merayakan lebih banyak
kemenangan. ” (Emosional, tetapi masih abstrak. )
- Final: “Tim anda akan masuk ke dalam meeting sales
seperti pahlawan/juara… karena mereka menutup dua kali lebih banyak
transaksi dibanding tim lainnya. ” (konkrit, emosional)
Sekarang, mengasumsikan keempat
pesan itu didukung dengan data yang sama terbukti bahwa, yang keempat membuat
anda senang membeli perangkat baru CRM?
Silahkan amati bahwa pesan “terakhir” lebih efektif dibanding dari pesan yang ada di daftar, cocok dengan harapan dan kebutuhan pembeli.
Silahkan amati bahwa pesan “terakhir” lebih efektif dibanding dari pesan yang ada di daftar, cocok dengan harapan dan kebutuhan pembeli.
Misalnya, “pahlawan” menggambarkan
pekerjaan terbaik dari sales manajer dari tim yang kurang baik performanya.
Bagi seorang sales manager dengan tim yang terus-menerus performanya payah-
semua orang juga … bukan begitu.
Pesan
Persuasif
Pesan persuasif terdiri dari :
a.
Surat pemesanan atau permintaan;
b.
Proposal dan surat rekomendasi;
c.
Surat lamaran pekerjaan;
d.
Laporan yang meminta sebuah
tindakan;
e.
Pesan yang dibuat untuk mengubah
perilaku orang lain, misalkan kritik dan saran agar seseorang mengubah
perilakunya menjadi lebih baik.
Ada 2 macam cara membuat pesan
persuasif yaitu :
a.
Direct request pattern, digunakan ketika :
i.
Kita ingin pembaca melakukan apa
yang kita inginkan tanpa rasa enggan;
ii.
Kita butuh tanggapan hanya dari
pembaca yang benar-benar ingin bertindak dan setuju terhadap pesan kita;
iii.
Pembaca dalam keadaan sibuk dan
berkemungkinan untuk tidak membaca seluruh pesan yang kita buat.
b.
Problem solving pattern, digunakan
ketika :
i.
Pembaca berkemungkinan untuk merasa
keberatan atas permintaan kita;
ii.
Kita membutuhkan tindakan dari semua
orang;
iii.
Kita percaya bahwa pembaca akan
membaca dan memahami seluruh isi pesan;
iv.
Kita berharap suatu pesan yang logis
lebih penting dan efektif daripada penggunaan emosi untuk mengajak atau
mempengaruhi orang lain.
Membuat pesan persuasif yang baik :
a.
Direct request pattern :
a.
Subject line yang digunakan yaitu
permintaan kita terhadap pembaca, topik pembicaraan atau sebuah pertanyaan;
b.
Pesan dimulai dengan permintaan kita
terhadap pembaca;
c.
Tata urutan isi pesan terdiri dari
permintaan kita terhadap pembaca, kemudian detail dan di akhiri dengan kembali
mengingatkan pembaca atas apa yang perlu mereka lakukan.
b.
Problem solving pattern :
a.
Subject line yang kita gunakan
berupa ungkapan secara langsung atau kalimat pendek yang menyatakan keuntungan
terhadap pembaca;
b.
Pesan dimulai dengan masalah yang
ingin kita sampaikan pada pembaca;
c.
Tata urutan isi pesan dimulai dari
menyampaikan masalah yang kita bahas dalam pesan > menceritakan detailnya
> memberikan solusi kepada pembaca > menunjukkan hal negatif yang muncul
> memberitahu pembaca akan adanya sebuah keuntungan bila melaksanakan apa
yang ada pada pesan kita > diakhiri dengan meminta pembaca untuk bertindak
sesuai dengan apa yang kita harapkan melalui pesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar